Partai Demokrat Bidik Kaum Nasionalis dan ReligiusPARTAI Demokrat menganut dan mengembangkan paham nasionalis-religius yang diwujudkan dalam semangat wawasan dan rasa kebangsaan yang tinggi disertai kecintaan yang mendalam terhadap Tanah Air.
Rasa kebangsaan itu menyatu dan didasari dengan nilai moralitas dan spiritual keagamaan. ''Dalam rangka national and character building, Partai Demokrat ikut berjuang membangun masyarakat dan manusia religius,'' kata Ketua DPD Jateng H. Subyakto SH MH, kemarin.
Karena itu, ujar dia, dalam Pemilu 2004 mendatang partainya akan membidik kaum nasionalis dan religius sekaligus. Dia optimistis, partainya akan mendapat suara 20% dari jumlah pemilih di Jateng. Alasannya, partainya memiliki figur ketua umum yang baik, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan mempunyai garis ideologi nasionalis-religius.
Selain itu, partainya sudah memiliki kepengurusan di 35 kabupaten/ kota dan hampir setiap kecamatan dan kelurahan. ''Untuk itu, kami akan masuk ke kantong merah (kaum nasionalis) dan kaum santri di pondok pesantren,'' tegasnya. Dia menjelaskan, visi partai yang didirikan oleh SBY pada 9 September 2001 itu adalah nasionalis-religius yang mengandung nilai nasionalisme, pluralisme, dan humanisme.
Nasionalisme, artinya Partai Demokrat memperhatikan kepentingan nasional, kepentingan bangsa dalam pergaulan dengan bangsa lain. Nasionalisme yang dianut partai ini mengandung nilai-nilai luhur yang diajarkan agama.
Pluralisme atau Bhineka Tunggal Ika, artinya Indonesia terdiri atas berbagai suku, agama, kebudayaan, dan bahasa yang berbeda serta berbagai kemajemukan lain. ''Kami menjunjung tinggi hakikat manusia. Karena itu, setiap warga harus diperlakukan sebagai manusia seutuhnya, dihargai harkat dan martabatnya oleh negara, partai, dan warga lainnya,'' ujarnya.
Agenda Nasional
Dia mengatakan, dalam anggaran dasar dan rumah tangga partai juga disebutkan agenda nasional, yakni recovery, reformasi, dan rekonsiliasi. Pada kurun 10-15 tahun mendatang, agenda nasionalnya adalah memulihankan kehidupan bangsa (recovery), mereformasi segala bidang, dan merekonsiliasi diri menuju bangsa yang bersatu.Langkah pemulihan kehidupan nasional, jelas dia, perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh setelah Indonesia mengalami perubahan kehidupan politik yang dratis dengan permasalahan dan implikasinya. (SUARA MERDEKA, Sabtu, 10 Januari 2004/Imam Nuryanto-29j)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar